.1 - jendela BIDIK
Jakarta, 20 Januari
Matahari menerobos kisi jendela apartemen. Dipantulkan oleh debu, lalu jatuh menimpa sudut meja, ujung karpet, dan sebagian lengan yang terkulai. Lando terduduk di tepi kasur. Kepalanya terasa berat. Setiap pagi. Beban yang sama, yang menggendam otaknya.
₪
Kalin merapikan seragam kerjanya. Harum aroma roti bakar isi telur buatan neneknya memanggil-manggil. Perut Kalin keroncongan.
“Cepat Kalin, ntar lagi rotimu dingin, lho!” seruan Eyang serta-merta membuat tangan Kalin bergerak lebih cepat menyisir rambut.
“Ya, Eyang!” Ia buru-buru menyambar tasnya dan keluar kamar setengah berlari.
₪
Lando bergerak malas. Meregangkan tubuh, menguap, bangkit dari kasur dan berjalan pelan menuju dapur. Sebentar berkutat mencari sebungkus kopi krim instan di dalam kitchen set, lalu meraih mug berwarna hitam. Secangkir kopi akan melarutkan sakit kepalanya bersama ‘muatan-pagi’ yang terbuang di kloset. Lagi-lagi laki-laki itu menguap panjang. Aroma kopi panas meruyak hidungnya, begitu nikmat, tapi kepalanya masih terus berdenyut. Lando meringis kecil. Tanpa sadar membanting pintu kitchen set, menimbulkan bunyi ‘blaakk’ yang keras.
Ia menyeret langkah, dengan mug berisi kopi masih mengepul di tangan. Menaiki tangga menuju rooftop apartemen, tempat sarapan favoritnya, di mana ia bisa melihat atap rumah-rumah di sekitarnya, ujung-ujung pohon yang mencuat di antara gedung, dan berisik jalanan padat di bawah.
Lando memandang langit, mengernyit.
Another day, thank’s.
₪
Kalin berjalan tergesa menyusur trotoar di tepian jalan Sudirman. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. Dari tubuhnya menguar aura penuh semangat. Pagi selalu berhasil mengembalikan mood-nya. Ia tak peduli Jakarta ruwet, dengan udara penuh polusi dan kejahatan yang mengintai dari mana-mana, selayaknya kota-kota metropolitan lain. Ia hanya tahu, kesal dan lelah semalam selalu larut terhisap mimpi, meninggalkan ampas yang terbuang di toilet setiap pagi.
Kalin berhenti dan mendongak. Menatap langit.
“Terima kasih buat hari ini!”
Kalin tersenyum. Kembali berjalan menuju halte busway Setiabudi.
***
Kopi krim dalam mug hitam Lando tersisa tak lebih dari seperempat bagian. Sudah mendingin. Beberapa semut mulai mencium aromanya yang manis dan berbaris memutar di lantai. Berharap masih mendapati sisa-sisa. Lando diam tak peduli. Secangkir angan-angan, entah tentang apa, mengepul hangat di kepalanya. Angan yang melompat-lompat, mulai dari impiannya membuat pameran foto sendiri, keinginan mendalami fotografi di Jerman, hingga angan-angan tentang cinta. Tentang Rara. Bermeter-meter di bawah Lando, denyut sibuk Jakarta teredam oleh gedung-gedung tinggi berlapis kaca. Jalanan mulai tenang dan mengalir. Hampir jam sembilan pagi. Tapi ia masih enggan beranjak.
Ritme hidup yang tak teratur membuat Lando jarang memiliki kesempatan menikmati pagi hari. Bangun sebelum matahari jadi tinggi dan bercengkrama dengan kesunyian bersama secangkir kopi di rooftop, sementara jalanan yang padat dan bising oleh manusia-manusia berebut pergi kerja terasa jauh di luar dirinya adalah sebuah kemewahan. Kini, Lando hampir tak punya kesempatan untuk berkhayal. Meski ia hampir tak pernah sadar ke mana waktunya pergi setiap hari.
Pergi. Kadang ia ingin pergi begitu saja, ke sebuah tempat yang tak dikenalnya. Mungkin ia jenuh, tapi bukankah fotografi adalah dunianya? Ke mana ia bisa berlari dari kamera. Mungkin ia jenuh pada obyek yang dipotretnya. Lando tersenyum tipis. Tapi mereka semua adalah perempuan-perempuan cantik. Mana mungkin ia bosan.
Suara telepon tiba-tiba menyergapnya dari lamunan. Mengembalikannya pada dunia. Jakarta yang sibuk. Hari yang berlari.
Lando ingin membiarkannya, berpura-pura tak mendengar. Tapi ia tak bisa kembali pada angan-angannya. Kemewahan itu sudah meloncat pergi dari kepalanya. Barangkali kini hinggap pada salah satu pucuk pohonan yang mencuat di antara gedung di samping apartemennya. Atau pada salah satu kepala salah satu manusia dalam salah satu gedung perkantoran. Lando menghempas nafas. Kesal. Teleponnya masih terus berbunyi.
Malas-malasan, ia beranjak. Menyambar mug hitam berisi kopi krim yang dibiarkannya sia-sia di lantai, menyemut. Ia menyeret langkah turun.
“Halo?” Tut tut tut tut tut. Terdengar suara nada telepon yang sudah keburu ditutup oleh penelponnya. Lando berdecak kesal. Buru-buru membawa mug di tangannya ke dapur. Semut-semut serakah yang merayah mug membuat tangannya gatal.
Belum sampai diletakkannya mug itu di bak cuci piring, telepon kembali berbunyi. Lando menoleh sedikit. Mengerutkan kening. Lalu melangkah malas menuju telepon.
“Halo?” Sunyi. Tak terdengar suara apapun. Lando mengerutkan kening. Kemudian terdengar suara nafas satu-satu.
“Halo?” Ulang Lando lebih keras. Suara nafas di telepon itu kian tajam dan terbata. Lalu berganti dengan isakan pelan. Membuat perasaan bingung bercampur keragu-raguan merambat pelan di dada Lando. Barangkali itu suara yang sudah dikenalnya.
“Ya?” Ia meneguk ludah.
“Do....”
“Rara? Ada apa? Kamu kenapa, Ra?”
“Aku... mm, pengen ngomong sesuatu ke kamu, Do.”
Lando diam. Menunggu.
“Ak – aku...” Perempuan itu tak melanjutkan kalimat. Suaranya tercekat, menahan tangis yang menggumpal di kerongkongan.
“Maaf, Do. Maaf...”
“Maaf? Kenapa, Ra?” Klik. Tut tut tut.
Kenapa? Pertanyaan Lando tak terjawab. Perasaan itu, ketakutan itu, lagi-lagi menggelembung dalam dadanya, berdegup hampir tak terkendali. Berlomba-lomba dengan tanda tanya yang terus bermunculan. Dengan tangan berkeringat, Lando mencoba menelpon Rara.
Telepon yang Anda tuju, sedang tidak....
Lando meletakkan gagang telepon. Kesal dan bertanya-tanya.

