Hosted by Photobucket.com

Monday, May 09, 2005

.1 - jendela BIDIK

Jakarta, 20 Januari
Matahari menerobos kisi jendela apartemen. Dipantulkan oleh debu, lalu jatuh menimpa sudut meja, ujung karpet, dan sebagian lengan yang terkulai. Lando terduduk di tepi kasur. Kepalanya terasa berat. Setiap pagi. Beban yang sama, yang menggendam otaknya.



Kalin merapikan seragam kerjanya. Harum aroma roti bakar isi telur buatan neneknya memanggil-manggil. Perut Kalin keroncongan.
“Cepat Kalin, ntar lagi rotimu dingin, lho!” seruan Eyang serta-merta membuat tangan Kalin bergerak lebih cepat menyisir rambut.
“Ya, Eyang!” Ia buru-buru menyambar tasnya dan keluar kamar setengah berlari.



Lando bergerak malas. Meregangkan tubuh, menguap, bangkit dari kasur dan berjalan pelan menuju dapur. Sebentar berkutat mencari sebungkus kopi krim instan di dalam kitchen set, lalu meraih mug berwarna hitam. Secangkir kopi akan melarutkan sakit kepalanya bersama ‘muatan-pagi’ yang terbuang di kloset. Lagi-lagi laki-laki itu menguap panjang. Aroma kopi panas meruyak hidungnya, begitu nikmat, tapi kepalanya masih terus berdenyut. Lando meringis kecil. Tanpa sadar membanting pintu kitchen set, menimbulkan bunyi ‘blaakk’ yang keras.
Ia menyeret langkah, dengan mug berisi kopi masih mengepul di tangan. Menaiki tangga menuju rooftop apartemen, tempat sarapan favoritnya, di mana ia bisa melihat atap rumah-rumah di sekitarnya, ujung-ujung pohon yang mencuat di antara gedung, dan berisik jalanan padat di bawah.
Lando memandang langit, mengernyit.

Another day, thank’s.



Kalin berjalan tergesa menyusur trotoar di tepian jalan Sudirman. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. Dari tubuhnya menguar aura penuh semangat. Pagi selalu berhasil mengembalikan mood-nya. Ia tak peduli Jakarta ruwet, dengan udara penuh polusi dan kejahatan yang mengintai dari mana-mana, selayaknya kota-kota metropolitan lain. Ia hanya tahu, kesal dan lelah semalam selalu larut terhisap mimpi, meninggalkan ampas yang terbuang di toilet setiap pagi.
Kalin berhenti dan mendongak. Menatap langit.
“Terima kasih buat hari ini!”
Kalin tersenyum. Kembali berjalan menuju halte busway Setiabudi.

***

Kopi krim dalam mug hitam Lando tersisa tak lebih dari seperempat bagian. Sudah mendingin. Beberapa semut mulai mencium aromanya yang manis dan berbaris memutar di lantai. Berharap masih mendapati sisa-sisa. Lando diam tak peduli. Secangkir angan-angan, entah tentang apa, mengepul hangat di kepalanya. Angan yang melompat-lompat, mulai dari impiannya membuat pameran foto sendiri, keinginan mendalami fotografi di Jerman, hingga angan-angan tentang cinta. Tentang Rara. Bermeter-meter di bawah Lando, denyut sibuk Jakarta teredam oleh gedung-gedung tinggi berlapis kaca. Jalanan mulai tenang dan mengalir. Hampir jam sembilan pagi. Tapi ia masih enggan beranjak.
Ritme hidup yang tak teratur membuat Lando jarang memiliki kesempatan menikmati pagi hari. Bangun sebelum matahari jadi tinggi dan bercengkrama dengan kesunyian bersama secangkir kopi di rooftop, sementara jalanan yang padat dan bising oleh manusia-manusia berebut pergi kerja terasa jauh di luar dirinya adalah sebuah kemewahan. Kini, Lando hampir tak punya kesempatan untuk berkhayal. Meski ia hampir tak pernah sadar ke mana waktunya pergi setiap hari.
Pergi. Kadang ia ingin pergi begitu saja, ke sebuah tempat yang tak dikenalnya. Mungkin ia jenuh, tapi bukankah fotografi adalah dunianya? Ke mana ia bisa berlari dari kamera. Mungkin ia jenuh pada obyek yang dipotretnya. Lando tersenyum tipis. Tapi mereka semua adalah perempuan-perempuan cantik. Mana mungkin ia bosan.
Suara telepon tiba-tiba menyergapnya dari lamunan. Mengembalikannya pada dunia. Jakarta yang sibuk. Hari yang berlari.
Lando ingin membiarkannya, berpura-pura tak mendengar. Tapi ia tak bisa kembali pada angan-angannya. Kemewahan itu sudah meloncat pergi dari kepalanya. Barangkali kini hinggap pada salah satu pucuk pohonan yang mencuat di antara gedung di samping apartemennya. Atau pada salah satu kepala salah satu manusia dalam salah satu gedung perkantoran. Lando menghempas nafas. Kesal. Teleponnya masih terus berbunyi.
Malas-malasan, ia beranjak. Menyambar mug hitam berisi kopi krim yang dibiarkannya sia-sia di lantai, menyemut. Ia menyeret langkah turun.
“Halo?” Tut tut tut tut tut. Terdengar suara nada telepon yang sudah keburu ditutup oleh penelponnya. Lando berdecak kesal. Buru-buru membawa mug di tangannya ke dapur. Semut-semut serakah yang merayah mug membuat tangannya gatal.
Belum sampai diletakkannya mug itu di bak cuci piring, telepon kembali berbunyi. Lando menoleh sedikit. Mengerutkan kening. Lalu melangkah malas menuju telepon.
“Halo?” Sunyi. Tak terdengar suara apapun. Lando mengerutkan kening. Kemudian terdengar suara nafas satu-satu.
“Halo?” Ulang Lando lebih keras. Suara nafas di telepon itu kian tajam dan terbata. Lalu berganti dengan isakan pelan. Membuat perasaan bingung bercampur keragu-raguan merambat pelan di dada Lando. Barangkali itu suara yang sudah dikenalnya.
“Ya?” Ia meneguk ludah.
“Do....”
“Rara? Ada apa? Kamu kenapa, Ra?”
“Aku... mm, pengen ngomong sesuatu ke kamu, Do.”
Lando diam. Menunggu.
“Ak – aku...” Perempuan itu tak melanjutkan kalimat. Suaranya tercekat, menahan tangis yang menggumpal di kerongkongan.
“Maaf, Do. Maaf...”
“Maaf? Kenapa, Ra?” Klik. Tut tut tut.
Kenapa? Pertanyaan Lando tak terjawab. Perasaan itu, ketakutan itu, lagi-lagi menggelembung dalam dadanya, berdegup hampir tak terkendali. Berlomba-lomba dengan tanda tanya yang terus bermunculan. Dengan tangan berkeringat, Lando mencoba menelpon Rara.

Telepon yang Anda tuju, sedang tidak....
Lando meletakkan gagang telepon. Kesal dan bertanya-tanya.

New Novel Streaming: UNGU VIOLET

Setelah perjuangan berbulan-bulan, akhirnya novel adaptasi dari film UNGU VIOLET kelar juga dikerjakan.... Leganyaaaa! Hum? Bisa berbulan-bulan??
! Karena bulan-bulan ini aku sibuk banget dengan begitu banyak hal yang bikin gak bisa intens nulis. Untunglah akhirnya selesai, setelah meluangkan waktu liburan 4 hari di rumah, sehingga sepertiga bagian akhir diperjuangkan selama 3 hari, hehe...

Ini ada streaming-nya, dikasih komennya yah... Ditunggu masukan-masukannya. Makasih banget, loh.

Thursday, April 14, 2005

Kemana Kau Bawa Aku Pergi?

dalam basah hujan, kita menepi. sebuah jembatan
memeluk tubuhmu. dekat lagi persimpangan.
cuaca yang muram tergelincir
di dekat kakimu. kau dengar tanyanya:
"Kemana kau bawa ia pergi?"

Tapi kau enggan menjawab. Hanya bibirmu
yang meluntur
jadi anggur tua; memerahkan pipi, bibir
dan isi kepalaku. "Kau mabuk?" tanyamu. aku mabuk. ya.
kaukatakan sunyi.

lalu gerit pintu dongeng yang berkarat memanggilku,
serak.
seperti lonceng tua tertatih mengetuk kaca jendela
dan terbata menyampaikan sesuatu tak terbaca
kepadamu:
meringkuk di balik selimut.

(malam sudah terlalu tua)

cahaya merkuri yang lelah terengah
merebahkan bayangbayang menindih trotoar yang ngantuk.
kaukatakan sunyi. lalu muram cuaca
menggeliat dengan gerutu.

"Hujan sudah berhenti," katamu. Kau tertegun
dengan mata menjala megamega yang bergulung
di atas kepala. aku tahu. tapi aku enggan menjawab.

sudah sejauh ini.
aku ingin mengeluh.
Kemana kau bawa aku pergi?

Benarkah?

bukankah kita saling memandang?

pada suatu malam, di gang sempit: melati bergema
di udara - katamu - yang menelisirkan kikihan pelan,
tangan di balik lipatan, ceruk membasah berbau
purba; dimana kita
bertikai sengit dan menghangus
dalam jam - bukankah kita saling memandang?

aku tak tahu.
apa kau tahu?

pada suatu siang. di jarijari jalanan, beberapa pengemis
henti dan beranjak. kaki lima yang pasrah (barangkali waktu memang
berhenti. dan kecukupan sudah terbunuh
di perjalanan), perut perih anak jalanan, bau pesing menguap
dari got, dan siul nakal dari sudut pos ronda: anak muda
- katamu,
"Bukankah kita saling memandang?"

aku
tak tahu.
barangkali engkau?

Ah.
sebab belum senja, tapi sudah
kusalibkan tubuhku di atas
tubuhmu.

(benarkah kita saling memandang?)

Wednesday, March 09, 2005

adakah engkau?

adakah engkau?
mimpi yang tibatiba terjatuh dan lari
dari ranjangkecilku
setiap pagi?

sebab selalu -
jarijariku terlampau rapuh
untuk sekadar
menjamah
wajahmu

[dan luka itu bernanah
di dadaku]

Tuesday, February 15, 2005

tengah malam

adalah tengah malam yang tak pernah
menangkap bayangmu. ketika angin kehilangan
nada dalam siutnya, dan burung-siang bahkan terlalu lelah
untuk bermimpi.

tak ada yang pergi
mencari
tapakmu. bahkan sunyi. tetapi bukankah
sunyi
memang tak pernah pergi?

(bahkan tak dalam mimpiku.)

katamu tengah malam; sejarah yang terhenti dan lahir
kita yang bicara dalam bisu, terengah berbisik:
apa yang bermain di balik
selimutmu, kekasih?

(sebab di sini, ada yang terlalu
ingin diingat, dan tengah malam
selalu bersijingkat
meninggalkannya
tanpa suara)

Saturday, January 29, 2005

whatta life

Hari ini lagi-lagi terbangun gara-gara mimpi yang nggak enak. Setelah semalam yang galau karena monitor tibatiba 'gagal' menyala after-booting [entah kenapa], sementara setumpuk kerjaan musti kelar hari ini juga. Gosh! [Tuhan, -- atau tukang servis komputer, tepatnya -- jangan bilang harddisk-ku jebol....]
Dan sepagi ini aku sudah terdampar di warnet, mencoba membuat diri sendiri senang, tanpa sedikit pun merasa lapar padahal cacingcacing di ususku sudah mulai mengangkat papanpapan demo mereka dan 'tereak-tereak'.
Whatta life(?)

Am I alive w'o my computer? hiks... [weep]

Lupakan.
Minggu depan, Sihir Cinta naik cetak. Senangnya! While, ada pentas monolog "Matinya Seorang Pejuang" yang mesti disiapin juga. While, dah mulai semester baru, krs, 'n another boring class dengan adek-adek yang belia...
Gosh.

Whatta life(!)

Sunday, January 23, 2005

Mimpi Semalam

Pernah terbangun terlalu pagi sekaligus terlalu siang di suatu hari karena mimpi? Terbangun, tercenung, lagilagi tertidur, terseret dalam pusaran mimpi yang sama yang masih terus menarik-narikmu ke dalam dan termuntahkan ketika matahari sudah terlalu tinggi dengan perasaan absurd menggelembung di kepala?

Kadang, kita hampir tak bisa memilah reaksi rasa terhadap mimpi dan realita, meski lantas terlupakan. Jadi serpih terbuang yang menggunung di otak, sampai suatu hari seseorang berkata pada kita: U got a tumor on ur brain.

Suatu kali, seorang sahabat bermimpi dirinya adalah seorang lesbian, yang dalam tidurnya menggumuli seorang perempuan. Ia terbangun dengan perasaan aneh terhadap dirinya sendiri, tetapi seharian itu jantungnya selalu berdetak lebih kencang ketika matanya beradu dengan mata perempuan. Libidonya menetes melihat belah dada perempuan lain, yang juga ada di dadanya sendiri. Obsesi terpendam? Ketakutan terpendam? Kesadaran terpendam? Masa depan yang terpendam?

Entah.
Benarkah mimpi adalah segala yang terpendam; terbuang; terlupakan; tertirikan?
Aku ingin sekali bilang tidak.
[setelah mimpi semalam]

Saturday, January 22, 2005

Intro: Di Mana Aku? (taken from "Sihir Cinta")

Namaku Rhein Prabasnaya.
Hampir dua tiga.
Semester lima sebuah kampus di Jogja. Sempat berhenti sekolah dua tahun selepas SMU. Memberontak.
Aku tinggal sendiri. Aku tak suka keramaian.
Liarkah aku? Tidak. Kata orang-orang,
aku cuma aneh. Kataku?
Tidak.
Aku cuma tahu lebih dulu dari mereka.
Anehkah?

Keramaian. Manusia-manusia berkerumun. Hingar musik yang berdentam. Orang-orang dengan nomer antrian. Bola kristal. Seekor kucing hitam mengeong di kaki meja bundar. Rhein tercengang. Di mana aku?
Manusia hilir mudik di sekitarnya dalam waktu yang kabur. Baur. Lambat. Rhein memandang dirinya sendiri. Pakaiannya aneh. Telinganya berat. Rhein merabanya. Dua anting bundar melekat di sana. Roknya berat. Berumbai, warnanya merah tua. Baju kerut berenda. Rambut tergerai di balik balut bandana. Bibirnya ‘tebal’. Rhein merabanya. Lipstik ungu tua tersisa di telunjuknya. Seperti gypsi. Gypsi? Kenapa?
Komidi putar berlampu warna-warni mendesirkan musik kanak-kanak sampai ke telinganya. Berbisik: “Mainlah.... mainlah.... Mari bermain!” Rhein tercengang. Arena yang riuh. Kerlap-kerlip. Hingar musik bercampur dengan pekik orang-orang bercampur dengan bau keringat bercampur dengan lembar-lembar kertas bernilai keluar dari saku dan dompet bercampur dengan bau arum manis bercampur dengan teriakan para penjaja. Pasar malamkah ini?
Seorang perempuan berjalan mendekat. Tersenyum padanya. Rhein mundur. Membentur kursi. Kucing hitamnya mengeong. Lima detik mereka berpandangan. Rhein mengenalinya. Salah satu teman. Satu angkatan di kampus. Siapa namanya?
“Siapa namamu?” tanyanya. Terlontar begitu saja. Perempuan itu mengerutkan kening. Heran.
“Becanda kamu, Rhe?”
Rhein diam. Perempuan itu seperti sudah mengenalnya. Apa aku kenal dia? Rhein menggigiti kukunya kikuk. Mengingat-ingat dengan mata melamun. Perempuan itu mengibas-ngibaskan tangan di depan matanya.
“Halo? Kangslupan[1] ya, Rhe? Aku Mita, hei!!” katanya. Rhein masih melamun. Mita? Siapa ya...
Mita tak peduli. Menyalakan lilin di sudut-sudut meja.
“Udah siap, ‘Bu? Antriannya dah panjang.” Mita pergi tanpa menunggu jawaban. Entah untuk apa, Rhein mengangguk. Menganggap alasan dan ingatan tentang Mita terselip pada laci otak yang berbeda. Entah untuk apa, Rhein duduk di belakang bola kristal. Ngapain sih, aku?
Kucing hitamnya mengeong.

Ini stand ramal, ‘Bu.

Rhein tersentak.
“Siapa yang ngomong??”
Kucing hitamnya mengeong lagi.

It’s me, it’s me.

Rhein memandangnya tak percaya. Kucing?? Ngomong?
“Bo’ong!”
Kucing itu tak bergeming. Menguap bosan.

Aku Nimbus. Kucingmu.

Nimbus? Aku punya kucing?
Rhein menggeleng-gelengkan kepala. Sesuatu mungkin korslet di kepalanya, kalau ia kehilangan begitu banyak ingatan. Lupa seorang teman bernama Mita, lupa punya kucing bernama Nimbus, lupa di mana dan untuk apa dia di sini.... Rhein memandang sekeliling dengan takjub. Stand ramal?
Seseorang menerobos masuk. Laki-laki. Tersenyum padanya.
“Hai Rhe....”
Lagi-lagi orang yang aku lupa?
Rhein memandangnya baik-baik. Stimulus yang diangkut susah-payah oleh neuro-transmitter di otaknya. Pelan-pelan ia ingat. Laki-laki itu bernama Ary Suta. Lalu? Cuma itu yang berhasil diingatnya.
“Hai, Ry.” Entah bagaimana Rhein bisa menjawab. Dan tersenyum.
Lalu waktu berputar cepat dan terbalik. Seperti film yang diputar dari belakang. Rhein tak bisa mengejarnya. Tiba-tiba Mita sudah berdiri di depannya lagi.
Rhein sempat meraba bibirnya. Ada sesuatu yang terjadi, kah tadi? Seseorang...menciumku? Ia hendak bertanya pada Mita, tapi ketika mulutnya terbuka gadis itu malah mengangsurkan ponsel.
“Gus,” katanya.
Ponsel itu berpindah tangan. Rhein berbalik menghadap dinding. Bicara dengan canggung dan bingung.
“Gus?”
“Kamu di mana, Rhe? Aku di Kafé Coklat sekarang. Kita janjian sore ini, inget kan?”
“Kafé Coklat? Tapi, aku....”
“Jangan lama-lama ya, Rhe. Aku udah ngabisin lima choco-latte nih! Bye.”
Klik.
Rhein tergugu. Tak tahu mana yang benar. Stand ramal, atau kafé Coklat? Tak mungkin keduanya sekaligus.
Ia berbalik bingung. Lagi-lagi ingin bertanya pada Mita. Tapi tak ada Mita di sana. Rhein hanya menemukan...
“Dinka??”
Seorang gadis cantik bersidekap memandangnya. Tersenyum sinis. Memandangnya dari atas ke bawah. Sesuatu dalam matanya membuat perasaan benci merambat pelan dari ulu hati ke tenggorokan Rhein.
Suara komedi putar meruyak telinga. Dinka menggumamkan sesuatu. Rhein tak dengar. Tapi ia paham: gumaman Dinka tak disukainya. Tiba-tiba ruangannya seperti mengecil. Nimbus meloncat. Mengeong keras. Rhein merasa sesak. Udara segar, aku butuh udara segar....
Ia berlari keluar tenda.
Di luar, orang-orang menatapnya. Aneh. A-neh. Dengung suara mereka memenuhi telinga Rhein. Pendar lampu warna-warni jatuh di matanya, membuat Rhein silau. Ia berlari. Mendekati panggung. Sebuah group band sedang pentas. Begitu riuh. Menggendam telinganya. Rhein merasa pusing. Bumi berputar. Pingsan... Aku nggak mau pingsan!
“Tolooongg....!!” jeritnya. Tak ada yang mendengar. Hingar musik menggendam telinganya. Ia, sia-sia dan sendirian. Tubuh Rhein melimbung. Ia yakin ia akan jatuh. Tapi,
seseorang menangkapnya dari belakang. Lengan kukuh itu memeluk tubuhnya.
“Hati-hati, Ray...”
Rhein menoleh. Terpekik gembira.
“Reza!!”
Cuma Reza yang manggil aku’Ray’....
Reza... Cuma Reza...

Lalu wajahnya terasa terang dan panas. Silau.
Seperti sorot lampu par 1000W.
Rhein menutup wajah dengan tangan. Tapi panas itu menembus kulit tangannya. Rhein bergumam.
“Reza, silau....”
Terusik.

Ia terbangun. Matahari menerobos dari celah tirai jendelanya. Menimpa wajahnya. Pantas....
Sudah pagi.
Rhein duduk di tempat tidur dengan perasaan bingung.
“Mimpinya aneh banget, sih?” Rhein mencoba mengingat-ingat. “Ada Dinka. Nimbus.... Nimbus itu kan kucingnya Tante Rima? Terus... Mita.... o iya, inget.
Tapi... Reza? Gus? Dan... Ary Suta??”
Rhein masih duduk bersandar di kepala ranjangnya.
Bingung karena memimpikan orang-orang yang tak dikenal,
tapi meninggalkan jejak yang bergaung di kepalanya.

[1] kesurupan